‘Tuhan’ Pasca Pilkada

‘TUHAN’ PASCA PILKADA

Oleh : Saidan Pahmi

Meski seluruh jagad raya ini tidak lagi menuhankan Tuhan, Tuhan adalah Tuhan.”

Sebuah keniscayaan, tatanan masyarakat religius dalam struktur kepercayaannya yang terinstitusi memiliki sesuatu yang diagung-agungkan yang dipercaya memiliki kekuatan melebihi kekuatan manusia dan alam semesta secara rasional. Sesuatu itu tentu dipercaya bukan saja sebagai penguasa absolut atas manusia dan alam semesta tetapi menjadi sumber segala sesuatu, baik yang ada di dunia maupun yang tidak ada di dunia, baik bersifat material maupun immaterial. Secara sederhana Sesuatu yang dipercaya sebagai penguasa absolut atas manusia dan alam semesta tersebut dalam bahasa sehari-hari disebut Tuhan.

Sudah barang tentu, sebagai manusia yang meyakini eksistensi dan kemahakuasaan Tuhan secara sadar, mengidentifikasi diri sebagai hamba dan meniti kehidupannya sesuai koridor yang digariskan Sang Penguasa yakni Tuhan. Koridor tersebut diformulasi dalam sebuah intitusi yang bernama agama. Manusia yang hidup di atas koridor ketuhanan dalam perspektif religi, tentu saja mendapat posisi/derajat yang mulia di hadapan Sang Penguasa. Atau seperti yang diungkapkan Dr Muhammad Imarah, akan mencapai gradasi penyucian yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.

Oleh karena itu, untuk mencapai derajat tersebut manusia harus tunduk pada koridor Tuhan yang dimanifestasikan dalam ajaran agama. Karena, perintah Tuhan dideduksi dalam ajaran agama. Dalam konteks ini dapat disimpulkan, orang yang beragama sudah pasti percaya tentang eksistensi Tuhan, tetapi tidak sebaliknya.

Agama konvensional saat ini mengajarkan tentang kepercayaan terhadap Tuhan, maka orang beragama yang taat menjalankan ajaran agamanya meyakini betul kebenaran dan eksistensi Tuhannya, meski masing-masing agama memiliki konsep tersendiri tentang Tuhan. Namun masih dimungkinkan, ada manusia yang percaya pada eksistensi Tuhan tetapi tidak menginternalisasi diri ke dalam agama konvensional tertentu, alias tidak beragama.

Menarik sebetulnya kalau hal ini didiskusikan lebih jauh, tentang hubungan Tuhan dan agama. Penulis sebenarnya bukan bermaksud membahas tentang eksistensi Tuhan dengan agama secara lebih mendalam, tetapi akan mengaitkan antara agama dengan berbagai fenomena pilkada yang berlangsung sekitar enam bulan terakhir di Kalsel. Prolog di atas hanya ingin menjelaskan bahwa agama inheren dengan kepercayaan terhadap Tuhan.

Mengingat, selama pelaksanaan pilkada yang dilaksanakan secara langsung dengan epilognya dimenangkan pasangan Rudy Arifin dan Rosehan (berdasarkan prosentasi perolehan suara di KPUD Kalsel), isu agama tidak pernah luput dijadikan dasar dalam perumusan strategi dan taktik yang digunakan masing-masing kandidat untuk meraih simpati publik.

Tidak mengherankan, setting politik dalam menetapkan beberapa pasangan calon yang dipertarungkan dalam pesta demokrasi lokal tersebut juga menggunakan approach agama. Hal ini terlihat dari pasangan yang diusung Partai Golkar, misalnya, yang menyandingkan kadernya Gt Iskandar SA dengan Hafiz Anshary yang notabenenya adalah ulama. Begitu juga dengan pasangan Ismet Ahmad dan Habib Abu Bakar serta pasangan yang diyakini akan memenangkan Pilkada 2005 yakni Rudy Arifin dan Rosehan NB, keduanya memang bukan ulama tetapi pasangan ini mengidentifikasi diri dari organisasi keagamaan yang besar yakni NU.

Begitu juga dengan pasangan Syachril Darham dan Nor Aidi dengan jargon politiknya ‘Raja A’A Nih’. Meski tidak direkomendasi oleh organisasi keagamaan sebesar NU dan Muhammadiyah, tetapi strategi perekrutan tim kampanye juga melibatkan beberapa ulama kondang seperti dai sejuta umat KH Zainuddin MZ dan dai seribu sungai KH Ahmad Bakeri.

Sementara pasangan cagub/wagub yang populer disebut Mr B atau Muhammad Ramlan dan Baderani, meski tidak sevulgar kandidat lainnya menggunakan simbol keagamaan, pengamatan penulis (mungkin amat subjektif) dalam menyusun strategi untuk meraih simpati publik di level basis pasangan ini juga berupaya merangkul ‘magnet politik’ berbagai tokoh masyarakat yang notabenenya kebanyakan ulama yang tinggal di daerah.

Hal yang tampak juga terkait dengan penggunaan isu agama pada musim kampanye Pilkada 2005. Beberapa kandidat begitu gencar menyuarakan isu agama seperti peraturan daerah yang bernuansa agama, komitmen terhadap pesantren, dan berupaya meraih simpati kaum santri dengan memberikan berbagai sumbangan untuk kepentingan keagamaan seperti pembangunan masjid, langgar dan lain sebagainya.

Dari rentetan fenomena simbolik keagamaan tersebut, tentu saja bukan tanpa alasan mengapa isu agama begitu membumi pelaksanaan Pilkada 2005 yang saat ini hampir mencapai titik epilog. Hal ini mengingat, Kalsel dengan kulturnya yang religius, pendekatan keagamaan menjadi strategi yang tepat untuk menarik simpati sebanyaknya masyarakat pemilih. Tentu saja isu yang diangkat harus bertoleran dengan agama Islam, mengingat mayoritas penduduk Kalsel beragama Islam.

Sebuah potret yang menarik dipandang dalam perspektif antropologis, setiap kandidat yang bertarung dalam even pilkada menjadi sebuah keharusan bahwa simbol keagamaan merupakan isu strategis digunakan jika ingin memperoleh suara signifikan atau memenangkan kontes pilkada.

Namun pertanyaan yang relevan dikemukakan pascapilkada ini, kemana komitmen keagamaan yang semula aktual menjelang pemilihan, apakah akan memudar seiring tenggelamnya isu pilkada? Kemana agama yang semula ‘dituhankan’ sebagai isu strategis dalam memperoleh simpati publik.

Akan lebih baik tentunya jika komitmen yang semula temporer kemudian dikontinyukan tidak hanya menjelang pilkada, sehingga mereduksi kandidat yang muncul secara tiba-tiba dengan kedermawanannya membantu berbagai macam pembangunan tempat ibadah, jalan dan lain sebagainya. Tetapi setelah mereka terpilih atau tidak terpilih, kedermawanan yang semula begitu menyolok menjadi redup.

Semoga hal ini tidak menjadi pemakluman di saat orang berpikir ‘begitulah politik, strategi apa pun akan dilakukan’, sehingga tuntutan moral atas janji retorik dan komitmen kandidat hanya diselesaikan dengan dua kata yakni insyaallah.

www.indomedia.com/bpost/072005/18/opini/opini1.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: