• Opini

  • Kalender

    April 2005
    S S R K J S M
    « Feb   Sep »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • RSS Detik News

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Arsip

Parpol Masuk Kampus; No Way

Oleh : Saidan Pahmi

 

Diskursus mengenai Parpol masuk kampus sampai sekarang masih merupakan wacana yang debatable. Sebagian insan akademik menerima kampanye dilaksanakan di dalam kampus sebagai bentuk pembelajaran politik bagi masyarakat kampus meski sebenarnya kampus merupakan tempat berkumpulnya kaum intelektual yang notabene kognitifnya relatif lebih mapan dibanding masyarakat kebanyakan.

Argumen sederhana inilah yang kemudian membuat sebagian insan akademik menerima Partai Politik mengkampanyekan diri untuk menyampaikan program partai yang mereka jalankan pasca Pemilu jika mereka memperoleh suara yang signifikan. Sebuah pemikiran yang positif jika dipandang dari aspek paedagogis bahwa Parpol masuk kampus akan memberikan pendidikan politik sehingga masyarakat kampus tidak apatis terhadap permasalahan politik vis-a-vis permasalahan bangsa.

Namun nuansanya menjadi berbeda ketika Parpol masuk kampus dikhawatirkan akan menyeret masyarakat kampus terjebak kepada kepentingan yang sifatnya pragmatis. Masyarakat kampus terutama mahasiswa akan terkontaminasi dengan intrik yang dimainkan elit Parpol yang dinilai oleh sebagian cendikia sebagai tindakan yang kurang menghargai “etika pertemanan” dalam perspektif egalitarianisme karena sarat dengan kepentingan.

Hal inilah yang menyebabkan sebagian insan kampus mengusung wacana penolakan Parpol masuk kampus. Selain argumen yang sudah mengemuka seperti terjebak kepada intrik politik elit Parpol, kecenderungan mahasiswa akan terpolarisasi menjelang Pemilu juga terbuka lebar, sehingga agenda-agenda rakyat yang sering disuarakan dan dikawal mahasiswa menjadi kabur karena terbentur perbedaan wacana yang ditawarkan akibat adanya advokasi terhadap komunitas tertentu yang menjadi idola sebagian mahasiswa. Implikasi yang mungkin terjadi adalah gerakan mahasiswa yang sering mengusung agenda-agenda rakyat akan diboncengi oleh intrik lain yang sudah niscaya menguntungkan kelompok tertentu sebagai “pion maya” yang bermain dibalik layar.

Dikotomi wacana inilah yang kemudian menyebabkan ada beberapa perguruan tinggi menerima kampanye masuk kampus dan sebagian lagi menolak Parpol masuk kampus untuk menyampaikan visi dan misi partai yang mereka usung. Sehingga tak mengherankan jika menjelang Pemilu ini, gerakan mahasiswa terpolarisasi akibat output wacana yang berbeda.

Dalam tulisan ini saya mencoba menuangkan tawaran wacana terkait dengan Parpol masuk kampus tetapi penempatanya pada segmen lain yang didasari oleh argumentasi yang berbeda dari apa yang sudah mengemuka sebelumnya, meskipun sulit menghindari dikotomi yang ada karena pada akhirnya tulisan ini juga berpretensi untuk menguatkan salah satu wacana di atas.

Pesimisme Mahasiswa

Tidak perlu detail kita kilas kembali bagaimana ketika pembahasan RUU Pemilu, RUU Parpol dan RUU Pilpres. Secara umum dinilai bahwa infrastruktur Pemilu tersebut sarat dengan kompromi politik sehingga stigma yang muncul bahwa infrastruktur Pemilu tersebut tidak lebih hanya merupakan akal-akalan elit Parpol yang kebetulan memperoleh suara yang mayor ketika Pemilu tahun 1999 kemaren.

Sebuah rekayasa besar agar pada Pemilu 2004 mendatang Parpol yang berkuasa sekarang bisa kembali meraih sukses seperti pada Pemilu sebelumnya. Pretensinya adalah bahwa Pemilu tidak lain hanya sebagai instrumen untuk mendapat legitimasi dan simpati baru dari rakyat, sehingga makna Pemilu 2004 bukan lagi sebagai alternatif pilihan bagi bangsa sebagai transisi yang menjadi mainstream demokrasi, tetapi Pemilu 2004 tidak lebih hanya sekedar proses “daur ulang politik”.

Melihat fenomena tersebut, mahasiswa sebagai garda terdepan dalam mengusung agenda-agenda rakyat harus berani melakukan “kontrak politik” agar elit politik memberikan garansi politik bahwa dengan infrastruktur yang ada, Pemilu 2004 bisa membawa perubahan signifikan bagi bangsa ini.

Namun persoalannya bahwa sampai sekarang tidak ada garansi apapun dari elit bangsa ini yang bisa dipegang bahwa pasca Pemilu nanti bangsa ini akan mengalami perubahan progressif sesuai dengan dambaan rakyat.

Tak heran jika sekarang rasa pesimisme menghantui segenap elemen bangsa terutama bagi mahasiswa bahwa Pemilu 2004 tidak akan menghasilkan apa-apa selain hanya merupakan instrumen legitimasi baru bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya, dan perubahan yang diharapkan bisa membawa bangsa ini kearah yang lebih baik hanya sekedar “cemilan” an sich, enak tapi tidak mengenyangkan.

Apatisme Mahasiswa

Dengan setting pesimisme terhadap Pemilu 2004 yang berakar dari infrastruktur Pemilu yang cacat moral, dalam tataran praktis mahasiswa harus mengambil sikap apatis terhadap Pemilu 2004 untuk melakukan delegitimasi terhadap Pemilu 2004. Apatisme di sini bukan dimaknai sebagai bentuk ketidakpedulian mahasiswa terhadap permasalahan bangsa, tetapi secara makro sebenarnya ini merupakan strategi mahasiswa untuk melakukan pressure terhadap elit bangsa ini, apatis terhadap Pemilu bukan berarti apatis terhadap permasalahan bangsa.

Mainstream apatisme yang menjadi komitmen mahasiswa ini sebenarnya adalah golput. Tetapi sekali lagi bahwa Pemilu 2004 tidak lain hanya merupakan akal-akalan elit politik bangsa ini karena sudah direkayasa sedemikian rupa sehingga wacana Golput ini terbentur dengan Undang-undang pelarangan kampanye Golput. Padahal dalam perspektif demokrasi sebenarnya golput tidaklah bertentangan karena merupakan hak setiap orang begitu juga mengkampanyekannya.

Apatisme mahasiswa terhadap Pemilu 2004 juga dengan melakukan penolakan kampanye masuk kampus sebagai wujud konsistensi gerakan mahasiswa. Hal ini juga dimaksudkan untuk membiarkan elit politik bangsa ini “berpesta pora” di luar kampus untuk menghadapi Pemilu yang sebenarnya merupakan pesta elit yang dimanipulir sehingga seolah-olah Pemilu merupakan pesta rakyat.

Pemantauan Pemilu

Berakar dari pemikiran di atas pada Pemilu 2004 Pemantauan Pemilu bagi mahasiswa tidak lebih hanya menjadi instrumen legitimasi. Hal ini disebabkan bahwa Pemantauan Pemilu bagi mahasiswa akan menjadi dasar pertimbangan terhadap hasil Pemilu mendatang, sehingga kontras dengan sikap apatisme mahasiswa terhadap Pemilu 2004.

Alasan lain yang mendasari penolakan Pemantauan Pemilu adalah bahwa kalau mahasiswa pada Pemilu kali ini kembali malakukan Pemantauan artinya bahwa gerakan mahasiswa tidak lebih maju dari Pemilu sebelumnya karena ketika Pemilu 1999 kemaren mahasiswa juga melakukan Pemantauan yakni dengan dibentuknya Forum Rektor dan sebagainya.

Oleh karena itu, pada Pemilu kali ini stressing apatisme bisa dijadikan mainstream gerakan mahasiswa pra Pemilu untuk melakukan delegitimasi terhadap hasil Pemilu mendatang. Kalau hal ini menjadi fenomenal, gerakan apatisme telah massif, mahasiswa akan memiliki bargaining position yang kuat terhadap elit politik bangsa ini.

Sehingga ketika Pemilu telah selesai, pemerintahan hasil Pemilu 2004 telah terbentuk, mahasiswa harus tetap siaga untuk melakukan kontrol ekstra parlementer. Kalau pemerintahan hasil pemilu 2004 yang infrastrukturnya cacat moral tersebut tidak becus mengatur negara mahasiswa harus kembali mengambil sikap dengan melakukan tuntutan perubahan total atau lebih ekstrem lagi menuntut pemerintahan yang ada untuk turun.

Hal ini memang merupakan tuntutan moral bagi mahasiswa karena sejak semula mahasiswa telah melakukan delegitimasi terhadap Pemilu 2004 sehingga gerakan ini hanya merupakan lanjutan babak pertama yang dilakukan pasca Pemilu. Salam Perjuangan.

 

 

Saidan Pahmi

Presiden Mahasiswa

BEM IAIN Antasari Banjarmasin

Iklan

Satu Tanggapan

  1. wagh bener tugh … kampus bukan tempat yg tepat untuk parpol …
    slam knal sbellumnya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: